2017 - 2023

TAHUN TERSEDIA

2303++

DATA TERSEDIA

3+

TOTAL DOWNLOAD

3+

BUKU TAMU

Download Data Kesehatan.

Indikator Kinerja Utama Bidang Kesehatan Tahun -.

Persoo is a personalization tool and team of experts who are ready to help you boost your e‑commerce revenue.

Nilai IPKM

Index Keluarga Sejahtera

Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Bayi

Artikel Terkait.

11, Apr 2022

2 Menit

Menurunkan AKI dan AKB melalui pembelajaran Gentle Birth

Tenggarong, DinkesKukarNews - Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara melakukan upaya peningkatan kualitas pelayanan maternal untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI ) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Hal ini merupakan prioritas utama pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional tahun 2020-2024 dan merupakan target Sustainable Development Goals (SDGs) yang harus dicapai pada tahun 2030 sebesar 70/100.000 Kelahiran Hidup (KH). Salah satunya dengan melakukan pembelajaran Gentle Birth di Yayasan Bumi Sehat, Gianyar Bali, selama 2 (Dua) hari pada tanggal 21-22 Maret 2022. Gentle birth adalah suatu proses melahirkan normal yang tenang dan damai sehingga rasa sakit ibu saat melahirkan bisa jauh lebih ringan. metode melahirkan gentle birth hadir untuk mengurangi keresahan dan ketakutan ibu dengan proses melahirkan yang menyakitkan. salah satu teknik yang digunakan dalam gentle birth adalah teknik rebozo. Rebozo adalah sebuah kata berasal dari bahasa Spanyol, artinya selendang atau syal. Selendang ini digunakan oleh para bidan untuk membantu kehamilan dan persalinan.Teknik rebozo mempunyai fungsi mengoptimalkan posisi bayi yang kerap terhambat oleh otot ligamen mama yang tegang. Dengan posisi yang lebih baik, janin diharapkan lebih mudah masuk panggul saat usia kehamilan 38 minggu.Teknik ini dilakukan dengan menggoyang goyangkan bagian abdomen dengan menggunakan rebozo. Teknik rebozo dapat membantu ibu hamil menjadi lebih rileks tanpa bantuan obat apapun. teknik ini sangatlah berguna ketika persalinan lama dan ibu mulai merasa tidak nyaman. Selain itu, teknik ini juga dapat digunakan untuk memberikan ruang ke bayi sehingga berada di posisi yang optimal. Bila melihat rasio kematian maternal di Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2021 yang mencapai 1303/100.000 KH, maka potensi untuk menurunkan AKI hanya dapat dilakukan dengan upaya yang optimal dan melibatkan semua lintas sektor terkait. Data analisis kematian menunjukkan dengan melihat sebaran data distribusi perkelompok umur, paritas, jarak kehamilan dan jumlah persalinan, masih ditemukan adanya kasus kematian maternal yang terjadi pada kelompok-kelompok risiko tinggi yang seharusnya tidak hamil dan melahirkan. Berbagai hal sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara dalam 8 tahun terakhir untuk menurunkan angka kematian maternal perinatal, neonatal, bayi dan balita yang masih cenderung berfluktuatif tinggi. Di mulai dengan kerjasama Universitas Adelaide Australia sejak tahun 2012 untuk melihat penyebab kasus kematian maternal melalui proses Audit Kematian Maternal, melakukan tindak lanjut perbaikan pelayanan kesehatan FKTP dan FKTRL melalui Home Visit maternal risiko tinggi/kompilkasi, optimalisasi penggunaan buku KIA, P4K, Amanat Persalinan, advokasi dan Pendampingan Rujukan, pembuatan tools Hotline, form Indeks Rujukan, Srikandie, Logbook Rujukan, Duck and Duckling serta membuat Feedback Group RS-Dinas Kesehatan untuk monitoring pasien pasca rawat jalan maupun rawat inap dengan komplikasi dan risiko tinggi. Selain itu, penguatan deteksi dini risiko tinggi tingkat FKTP dan jejaring juga dioptimalkan melalui pelaksanaan Manual Rujukan Maternal Neonatal (MR-MN) berbasis klasifikasi diagnosis dan berdasar klaster zona rujukan (zoba hilir, tengah dan hulu) untuk memudahkan alur rujukan dan penanganan. Implementasi MR-MN juga diperkuat dengan pelaksanaan form Indeks Rujukan oleh semua fasilitas pemberi layanan kesehatan maternal untuk membantu analisis kebutuhan rujukan secara tepat, penanganan awal gawat darurat serta stabilisasi pra rujukan melalui panduan Hotline rumah sakit sehingga tidak terjadi kasus keterlambatan yang berkontribusi dalam peningkatan rasio kasus kematian. Lebih ke hulu pencegahan kejadian eklamsia pada kehamilan juga diupayakan melalui penggunaan form Srikandie pada trimester awal kehamilan mengingat eklamsia adalah salah satu penyumbang besar kasus kematian. Pembelajaran kasus kematian melalui proses audit dilakukan untuk menemukan rekomendasi tindak lanjut/respon yang sesuai dan berguna untuk mencegah kematian yang sama dikemudian hari. In House Training, Retraining Pasca Pelatihan dan Magang Pemegang Program Kesehatan ke puskesmas dan rumah sakit adalah salah satu bentuk peningkatan kapasitas petugas dalam memberikan pelayanan terbaik bagi ibu maternal perinatal, neonatal, bayi dan balita. Pandemik COVID-19 selama kurun waktu 2 tahun menyebabkan peningkatan kematian maternal yang signifikan sampai dengan 58,3% atau sebanyak 14 kasus pada tahun 2021 sebagai akibat dampak langsung dan tidak langsung pandemik. Permasalahan ini tentunya akan semakin memperumit masalah kematian maternal selain penyebab klasik kematian lain yang meliputi perdarahan, eklamsia dan infeksi.(stw)

Baca selengkapnya

28, Apr 2022

2 Menit

dr. Aditya Zulfikar, Sp.OG : Pengelolan Pasien Preeklamsia Dapat Menurunkan AKI di Kutai Kartanegara

Tenggarong,DinkesKukarNews - Dinkes Kukar mengadakan pertemuan peningkatan kapasitas petugas kesehatan melalui metode duck and duckling bagi Bidan Koordinator Puskesmas dan Penanggung Jawab Program Anak dari 32 Puskesmas Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin, (25/04), di Hotel Aston Samarinda. Duck n duckling merupakan inovasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Terinspirasi filosofi bebek dan anak bebek, Bagaimana Ibu menjadi pemimpin, pembimbing sekaligus Pengayom bagi anak-anaknya untuk belajar mengarungi kehidupan. Maka dalam konsep maternal ini, dokter spesialis kandungan dan kebidanan serta Spesialis Anak berperan sebagai ibu yang memimpin, membimbing sekaligus mengayomi bidan-bidan puskesmas Kutai Kartanegara dalam penanganan permasalahan Maternal dan perinatal. Metode ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2019 atau 3 tahun yang lalu. Bentuk metode Duck and Duckling bermacan - macam mulai dari pelatihan, pertemuan, seminar workshop dan kegiatan lain yang menempatkan bidan sebagai mitra kerja dan jejaring yang lain melengkapi dalam alur pelayanan kesehatan Maternal bagi FKTP dan FKTRL. Kegiatan peningkatan kapasitas bidan dengan metode duck n duckling berlangsung selama tiga hari, Mulai tanggal 25 sampai 27 April 2022, diikuti Bidan koordinator Puskesmas dan penanggung jawab program anak dari 32 Puskesmas Kabupaten Kutai Kartanegara, Kegiatan dimulai dengan sambutan kepala dinas kesehatan sekaligus membuka kegiatan dan dilanjutkan dengan pemaparan kebijakan pemerintah dalam upaya penurunan AKI dan AKB oleh sekretaris Dinas Kesehatan ibu Ismi Mufidah. SKM, MPH. Narasumber yang diundang adalah dr Aditya Zulfikar, SPOG yang memberikan materi tentang penanganan kasus Preeklamsi berat dan hemoragik post partum serta dr. M. Buchori Sp. A, M.Sc yang memberikan materi tentang resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia. Kegiatan peningkatan kapasitas petugas melalui metode duck and duckling berangkat dari masih tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi yang masih tinggi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Rasio AKI pada tahun 2021 sebesar 303/100000 KH. Angka ini hampir sama dengan rasio AKI Indonesia yakni 305/100000 KH berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) terakhir yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015. Begitu pula dengan penyebab kematian, penyebab kematian ibu berdasarkan data laporan rutin Pemantauan Wilayah Setempat (PWS - KIA) tahun 2021 menyebutkan bahwa dari 38 kasus kematian tersebar hampir merata di semua Puskesmas di mana 22 kasus kematian (67,89%) dikarenakan covid-19, dan ini meliputi lebih dari setengah kematian Maternal. Tantangan tidak hanya sampai disini penyebab kematian tidak langsung lainnya masih terdapat 9 kasus (23,68%) dengan penyebab Diabetes Melitus (DM), Tuberkulosis (TB) paru, CA Mamae dan infeksi. Sedangkan untuk Penyebab langsung kematian Maternal masih didominasi penyebab klasik kematian seperti eklamsia dan perdarahan sebanyak 7 kasus kematian. (stw)

Baca selengkapnya

20, May 2022

2 Menit

Kadinkes : Target Eliminasi TBC Pada Tahun 2030 Yang Dicanangkan Pemerintah Adalah Tantangan Kutai Kartanegara Untuk Mewujudkannya,

Tenggarong, DinkesKukarNews - Dinas Kesehatan mengadakan Kegiatan Monitoring Evaluasi  dan Peningkatan Kapasitas bagi Tenaga Dokter dan Pengelola Program Tuberkulosis ( TBC) Rabu, 18 Mei 2022, di Hotel Grand Fatma, Kutai Kartanegara.Tuberkulosis (TBC)  atau TB adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri. TBC umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak. Penularan TBC terjadi ketika seseorang tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) saat seseorang yang terinfeksi TBC bersin atau batuk. Oleh sebab itu, risiko penularan penyakit ini lebih tinggi pada orang yang tinggal serumah dengan penderita TBC. TBC pada paru-paru akan menimbulkan gejala berupa batuk lebih dari 3 minggu yang dapat disertai dahak atau darah. Selain itu, penderita juga akan merasakan gejala lain, seperti demam, nyeri dada dan berkeringat di malam hari.Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan global hingga sekarang. Sebagai penyakit menular, TBC menjadi pembunuh yang paling mematikan di dunia. Berdasarkan global TB report WHO 2021, Indonesia merupakan Negara dengan beban tuberculosis tertinggi ketiga di dunia. Diestimasi terdapat 824.000 kasus tbc baru setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 93.000. estimasi jumlah kasus TBC anak pada tahun 2020 sebesar 99.000 dengan demikian kasus tbc anak memiliki presentase 12% di antara jumlah kasus TBC seluruhnya di Indonesia yakni 824.000. Beban Infeksi Laten TBC ( ILTB) didunia pada tahun 2014 sekitas 1,4 Milyar orang yang diperkirakan mengidap ILTB dan beresiko berkembang menjadi penyakit TBC aktif seumur hidup. Indonesia merupakan Negara Asia Tenggara dengan beban masalah TBC aktif terbanyak. Program TPT (terapi pencegahan tuberculosis) yang merupakan program pengendalian tuberculosis nasional yang sudah diperkenalkan sejak 2016 sesuai dengan sasaran populasi yang tertuang dalam permenkes nomor 67 tahun 2016 tentang tuberculosis namun masih terbatas pada populasi anak kontak usia dibawah 5 tahun dan ODHIV.Data yang berhasil dihimpun Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara menyebutkan angka Case Detection Rate (CDR ) kabupaten kutai kartanegara masih sangat rendah,  dari  target CDR tahun 2021 sebanyak 1.049, Kutai Kartanegara baru mencapai 707 (67,43%), sementara untuk tahun 2022 target CDR adalah 1.076 dan baru dicapai sebanyak 156 (14,50%) pada triwulan 1 (Satu) ini. Target Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) TBC Kutai Kartanegara berdasarkan rasio jumlah penduduk tahun 2021 sebanyak 5.662 dengan capaian 4.681 (82,67%) dan pada tahun 2022 target SPM TBC sebanyak 5.812 dan baru tercapai 1.920 (33,04%)pada triwulan 1 (Satu). Hal tersebut mendasari Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara mengadakan pertemuan yang berlangsung selama 3 hari, mulai tanggal 18 Mei hingga 20 Mei 2022 yang diikuti seluruh Pemegang Program TBC, Petugas Laboratorium  dan Perwakilan Dokter dari Rumah Sakit se-Kabupaten Kutai Kartanegara. Pertemuan ini berisi tentang Update penanganan infeksi Laten Tuberkulosis  dan cara pemeriksaan sputum TBC yang disampaikan oleh Pengelola progran TB dari Provinsi Kalimantan Timur serta Dokter Spesialis Paru dari RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong.dr. Martina Yulianti Sp.pD, Finasim, M.kes (MARS) mengatakan Target Capaian seluruh SPM adalah 100% termasuk target Capaian SPM TB yang dibebankan oleh pemerintah kepada seluruh stakeholder Bidang kesehatan dan sekarang masuk kedalam indikator kinerja Bupati. “ Apalagi target Eliminasi TBC pada Tahun 2030 yang sudah dicanangkan pemerintah memerlukan upaya yang maksimal dari pengelola program TBC  tidak hanya peningkatan kompetensi tetapi juga strategi yang tepat supay target yang sudah ditetapkan dapat tercapai.” tegasnya.“Saya memahami bahwa Indonesia termasuk negara yang tertinggi dari penderita TBC sehingga itu menjadi cita-cita dan target kami untuk bisa menurunkan nama Indonesia dari list (daftar) negara tertinggi yang terkena TBC dan sekaligus mencapai target eliminasi TBC di tahun 2030,” kata Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam webinar Peluncuran Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis.Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis yang ditandatangani presiden Joko Widodo pada 2 Agustus 2021 adalah momentum dalam upaya menanggulangi tuberkulosis.

Baca selengkapnya

Buku Tamu & Download.

Syaiful Rahman Fauzi

Mahasiswa

25, Apr 2022

Syaiful Rahman Fauzi

Mahasiswa

25, Apr 2022

Syaiful Rahman Fauzi

Mahasiswa

25, Apr 2022